rumah popok

Rumah Popok Blog

Popok vs Lingkungan

Posted on Wednesday 3/9/2011 at 12:31 | Category: Articles

Perdebatan tentang kontribusi lingkungan dari popok kain/clodi dan pospak memang ada. Kalangan pro pospak mengatakan bahwa menggunakan popok kain/clodi memiliki konsekuensi penggunaan air yang ekstra, penggunaan deterjen yang mencemari air tanah, dsb. Kalangan pro popok kain mengatakan penggunaan pospak berarti menambah limbah padat yang cukup signifikan terhadap TPA, dan kandungan tinja berbahaya apabila masuk ke dalam air tanah. Menurut pendapat saya, kita tidak bisa begitu saja menyalahkan deterjen dan air untuk mencuci popok kain, karena tanpa popok kain pun, kita sudah menggunakan air. Anggap saja popok itu adalah pakaian dalam bayi (karena toh bayi hanya menggunakan popok kan? Tidak pakai ‘pakaian dalam’), sama dengan orang dewasa yang sehari hari menggunakan pakaian dalam. Penggunaan air ekstra adalah konsekuensi alami dari manusia ‘ekstra’ yang datang ke bumi. Tanpa kelahiran bayi pun, kita bisa jadi memang sudah menggunakan deterjen tidak ramah lingkungan. Jadi jika ada pencemaran deterjen di badan air dan air tanah, itu adalah kesalahan orang dewasa yang tidak mau mempertimbangkan deterjen yang ramah lingkungan. Selain itu, walaupun air semakin menipis, air adalah tetap sumber daya alam yang bisa diperbaharui. Lagipula mari kita pikir, apakah volume air untuk mencuci popok sebegitu signifikan-nya? Adapun pospak? Tetap saja butuh waktu 500 tahun untuk menguraikannya. Ada satu hal yang menarik perhatian saya. Pup bayi (feses manusia), itu seharusnya masuk ke saluran khusus yang dibawa dari WC ke instalasi pengolah air buangan, tidak boleh masuk ke TPA. Apabila kita cermati kemasan pospak, maka di dalamnya ada instruksi untuk membuang pup bayi terlebih dahulu ke WC, sebelum membuang popok tersebut. Apakah para orangtua melakukannya? Saya tidak mau berprasangka buruk, tapi sejujurnya, saya tidak yakin, karena saya sendiripun cenderung malas repot apabila mengenakan bayi saya pospak. Dengan popok kain, mau tidak mau, kita harus membuang pup terlebih dahulu ke WC, sehingga kecenderungan untuk terjadi pencemaran tinja justru lebih dapat dikurangi. Harap diingat bahwa setiap kegiatan manusia pasti menimbulkan dampak lingkungan. Apalagi selama kita menggunakan energy (listrik, bensin, dll), maka mau tidak mau kita berkontribusi terhadap kerusakan lingkungan. Jejak ‘dosa’ kita terhadap alam ini yang disebut jejak ekologis. Selama ‘kerusakan’ yang kita buat masih dapat diimbangi dengan kemampuan alami lingkungan untuk memulihkan diri, maka itu masih wajar wajar saja. Mengenai kontribusi kerusakan lingkungan popok kain dan pospak, ada baiknya kita melihat dari sisi: mana yang lebih banyak jejak ekologisnya? Dan menurut beberapa sumber (sebagai contoh dari http://www.dummies.com/how-to/content/diapers-cloth-versus-disposable.seriesId-92323.htm l#glossary-carbon_footprint;_ecological_footprint), jejak ekologis pospak adalah 2 kali lipat dibanding popok kain. Ok, mari kita mencari sebuah sumber yang lebih netral. Dari sumber http://www.thedailygreen.com, Dr. Alan Greene (chief medical officer of A.D.A.M., chair of The Organic Center, a member of the advisory board of Healthy Child Healthy World and clinical professor of pediatrics at Stanford University’s Packard Children’s Hospital) mengamati sebuah studi dilakukan oleh Badan Lingkungan di England dan Wales. Kelompok peneliti membandingkan pospak, popok kain yang dicuci di rumah, dan popok kain yang dicuci di tempat mencuci komersial dalam hal kontribusi terhadap pemanasan global, penipisan ozon, pembentukan SMOG, dan penipisan sumberdaya alam yang tidak bisa diperbarui, pencemaran air, asidifikasi, toksisitas, dan polusi tanah. Studi ini tidak merekomendasikan pilihan apapun karena menurut para peneliti ini, semua menimbulkan dampak lingkungan. Walaupun menurut Dr. Alan Greene, seorang dokter anak, studi ini kurang lengkap karena di dalamnya tidak memperhatikan proses sangat awal dari produksinya, misalnya darimana asal asal liner plastic pospak, penebangan pohon, hingga penanaman kapas, karena akan ada perbedaan yang besar antara kapas yang tumbuh dengan kontribusi zat kimia toksik dan kapas organic, antara hutan yang berkelanjutan dengan hutan yang asal dibabat. Oke, kita anggap saja hasil penelitian Badan Lingkungan di Inggris akurat. Menurut Badan Lingkungan ini, yang penting adalah tindakan selanjutnya yang dapat mengurangi dampak popok. Misalnya bagi pemakai popok kain, mereka harus melakukan efisiensi energy dan hemat air (mudah bukan?). Jika memilih pospak, maka pilihlah produk dari produsen yang peduli lingkungan (green manufacture), yang biodegradable dan yang biasanya juga tidak mengandung klorin (lihat pembahasan mengenai popok dan kesehatan pada tulisan selanjutnya). The big question is… apakah pospak yang umum dijual di Indonesia itu bebas klorin dan biodegradable (dapat terurai)? Memang rasanya kurang adil jika mengeneralisir. Namun saya pernah melihat pospak impor dan mengklaim produknya ramah lingkungan, harganya.. hmmm.. kruk kruk kruk…

Rumah Popok on Papers

Posted on Thursday 3/3/2011 at 12:38 | Category: Rumah Popok on Media

On Inspired Kids Mag, June 2010

http://rumahpopok.com/wp-content/uploads/2010/07/On-Inspired-Kids.jpg

Seberapa Banyak Pipis Bayi?

Posted on Friday 7/9/2010 at 4:30 | Category: Articles

Segala penjelasan tentang ‘untuk berapa kali pipis’ di rumah popok adalah estimasi, yang utamanya berdasarkan riset pada baby Raul (which is, hanya dengan obyek riset 1 bayi). Jadi kalau ada kesaksian tentang popok yang bisa tembus padahal baru 1-2 kali pipis (padahal di baby Raul bisa semalaman, begitu pula testimoni banyak pengguna popok kain x yang lain), ternyata… itu memang hal yang mungkin terjadi pada popok manapun. Menurut pengalaman, smua popok bisa tembus, TERMASUK disposable diaper merek yang konon paling yahud, tidak terkecuali jg clodi impor (Sempat mengalami beberapa kali tembus pake pospak waktu libur lebaran, padahal popoknya blm penuh: sebabnya karena digendong samping yg menyebabkan jalur pipisnya tertekan di pinggang). Yang bisa dilakukan hanya memberi deskripsi produk sejelas mungkin berdasarkan pengalaman. Sayangnya, tiap bayi itu berbeda. Ini yang tidak terhindarkan. Bunda harus melakukan riset sendiri. Agak agak trial error juga memang kalau beli popok. Kalopun jualan offline pun tidak mungkin popoknya dicobakan kena pipis bayi untuk mengecek daya tampung bukan?

Alhamdulillah, dapat sumber bermanfaat tentang kapasitas kandung kemih anak:

Dr. Preston Smith, seorang pakar urologi dan urologi anak menyatakan bahwa kandung kemih anak besarnya bervariasi. Bisa dipengaruhi tinggi, berat, dan genetik. Studi menunjukkan bahwa anak yang kandung kemihnya kecil lebih cenderung banyak pipis di malam hari. TIDAK ADA cara mudah untuk mengukur ukurannya. Cara paling akurat adalah memasang kateter.

Tapiiii ngomong ngomooong, iseng amat yaaa mau masang kateter (yang menyakitkan itu) hanya untuk mengukur kandung kemih secara akurat.

Akhirnya kita coba pakai cara kira kira lagi. Tapi ngga apa apa deh yaa, ada referensi baru. Ada 2 referensi nih:

(1) Great Dad (http://www.greatdad.com/), sebuah website untuk kaum ayah

Tipikalnya, ukuran kandung kemih anak adalah umur (dalam tahun)+ 2 ons. Jadi anak 6 tahun punya kapasitas kandung kemih 8 ons (240 ml).

Misalnya bayi (let say anak 1 tahun). Maka dia punya kapasitas kandung kemih 1+2= 3 ons (90 ml). Jadi, sebanyak banyaknya bayi pipis sampai bladder nya kosong, kira kira yang dikeluarkan adalah 90 ml. Bayi dengan umur lebih muda tentunya lebih sedikit lagi.

(2) Doctor Guide (http://www.docguide.com )

Adapun sumber lain ada yang menyebutkan tentang Functional Bladder Capacity (FBC), yaitu volume kandung kemih yang diperlukan untuk dipenuhi saat anak/bayi merasa INGIN pipis. Bayi baru lahir memiliki kandung kemih fungsional sebesar 30 ml. Tidak seperti anak yang sudah toilet training, secara logika bayi tidak menahan pipis. Saat ingin pipis, maka mereka akan pipis, tidak harus menunggu kandung kemih penuh.

Menurut sumber ini, rumusnya sebagai berikut:

(ml) = [30 x (age in years + 1)].

Jadi, bayi 1 tahun kapasitas kandung kemih fungsional nya 60 ml. Kalau kurang dari 1 tahun, ya kurang jg dari 60 ml, dihitung saja berdasarkan rumus di atas.

Namun, untuk studi kasus popok ini, sepertinya yang logis diambil adalah referensi kedua, karena pada bayi, jarang sekali ada bayi menahan pipis hingga kandung kemihnya penuh, kecuali bayi bayi tertentu yang memang sudah ‘terlatih’ pipis di toilet, yang  risih jika dipaksa pipis di popok, sehingga kandung kemihnya cenderung lebih penuh karena menahan pipis.

Dengan referensi ini, maka daya tampung insert yang dijual di Rumah Popok adalah sbb:

(1)   Insert Handuk Katun: plus minus 150 ml –> 2-3 kali pipis yang banyak.

(2)   Carrie Microfiber dilipat 3: 100-120 ml–> 2 kali pipis yang banyak

(3)   Carrie Microfiber dilipat 4: 120-150 ml–> 2-3 kali pipis yang banyak

Catatan: Bayi tidak selalu pipis sebanyak 60 ml setiap kali. Jadi angka di atas adalah angka estimasi minimal (jika bayi pipisnya maksimal)

Jadi… untuk berapa jam 1 popok bisa bertahan? Ini juga perlu riset kecil untuk masing masing bayi. Ada bayi yang jarang sekali pipis di malam hari, sehingga 1 popok kain cukup untuk semalaman. Ada juga yang perlu ganti 1 kali di tengah malam. Iklan produk produk tertentu (termasuk popok sekali pakai) tentang daya tahan popok juga merupakan estimasi.

Jadi.. buat Bunda, happy researching

Email : rumah popok.
Copyright © 2011 Rumah Popok.com. Convenient & Affordable Cloth Diapering