rumah popok

Rumah Popok Blog

Sosialisasi dan Charity Popok Kain/Clodi

Posted on Wednesday 8/25/2010 at 5:44 | Category: Cerita Featured
Presentasi ke Kepala Panti dan Pengurus

Alhamdulillah, tanggal 22 Agustus lalu, sudah terlaksana acara sosialisasi dan charity popok kain di Panti Asuhan Balita Tunas Bangsa, yang diadakan oleh milis popok kain. Panitia yang terbentuk cukup mini, hanya mba Yana as bu Ketu, mba Friska sebagai bendahara, dan aku sebagai seksi materi, lalu 2 bu mods yang tjantek tjantek (Mba Sitha & Mba Anna) sebagai pengawas, hohoho…

Belakangan mba Lia jg ikutan sebagai seksi sibug.

Ini pertama kalinya aku ikutan kepanitiaan virtual semacam ini. Jujur aja, walaupun smua orang ini oke oke banget, suliiit banget bisa ngumpul dan berdiskusi semua. 1 kali yahoo conference, itupun ternyata gak bisa kumpul semua. Satu masuk, yang lain pergi, ahaha. Maklum deh mak mak dah punya anak, anak2 kan ga bisa dibuat janjian untuk diem semua, hihihiy…

Akibatnya yah koordinasi berlangsung sahut sahutan melalui email. Sesekali aku miss informasi karena inbox juga buanyak banget isinya.

Sumbangan Popok Kain

Seserahan Popok Kain

Popok yang terkumpul, hmmm nggak diitung siih, tapi kalau lihat penampakannya, buanyak bangeeets. Aku ngembat rotan buat seserahan nikah dulu untuk dihias seperti ini, untuk seremonial lahh biar kalau dipoto kan cantik gituuu.. Voila… jadi lahhh seserahan popok.

 
Di panti itu, ruangan dipisahkan berdasarkan umur, ada 4 kamar, tapi kami cuma berkunjung ke kamar yang pantes pakai popok, yaitu newborn dan batita. Di kamar batita aku demo kan cara pakai popok ke pengasuhnya, yang beruntung adalah popok tjap GG warna hijau sumbangan juragan Indah.

 

Demo Pemakaian Popok ke Batita

Syut syuuut

Demo Pemakaian Popok ke Bayi Baru Lahir

Nah lalu di kamar newborn, juragan Indah nunjuk nunjuk Enphilia utk dipakaikan ke bayi kecil. Duhhh heartbreaking banget kalau lihat makhluk2 kecil itu terlantar ngga punya orangtua. Sempet jadi bahan diskusi jg ma si ayah, gimana kalo gak usah punya anak lagi, tp mungut 3 anak lagi dari situ. Hohooo tapi ya baru jadi diskusi, si ayah tertarik. Apa daya, kami tak cukup umur utk mengangkat anak, hooohohoho.

Eniwei, akhirnya aku cobain lah Enphilia ke bayi kecil. Jreeeng, tampak tidak proporsional. Sebenernya sudah diduga, namanya jg popok 1 ukuran. Inilah yang bikin aku mikir2 utk bikin versi petit nya, special for nuborn.

Acara lalu dilanjutkan dengan wawancara ke bu Sitha boz nya milis dan bu ketu panitia.

Hmm sbenernya aku ngga mau berpuas hati dengan acara hari itu. Selain acaranya singkat, perencanan lapangan nya gedubrak gedubruk, aku khawatir popoknya hanya akan dionggokkan, walaupun pak Kepala panti tertarik. Namanya barang baru, barang aneh, harus di cek apa benda ini dipakai. I am hoping for a more thorough chatting session with all the crew. Tp utk acara di hari libur dan melibatkan mak mak panitia via internet, aku sudah sangat berbangga hati ada di kepanitiaan ini, acara berlangsung tanpa kami bertemu muka, dan kami semua baru kenalan beneran di venue. Amazing huh?? huehehe…

Alhamdulillah…. pengen lagiii… nagihh nagihh… berbagi itu membahagiakan!

-makasih mba Sitha poto2nya-

Enphilia Newborn size – Perlukah

Posted on Tuesday 8/24/2010 at 7:24 | Category: Cerita
 

Assalamualaikuuuum…

Produk popok kain reguler Enphilia saat ini ada Enphilia Original dan Enphilia Crispy. Sejak 1 tahun yang lalu, model Enphilia mengalami beberapa modifikasi. Modifikasi ini berdasarkan masukan masukan yang didapatkan. Walaupun disebut onesize (all size), Enphilia original punya keterbatasan yaitu baru bisa dipakai untuk di atas 5 kg.

 Awalnya, ukuran pola Enphilia lebih ke arah NB-10 kg (sebenernya di atas itu seharusnya bisa sih). Kemudian muncullah komplain bahwa Enphilia original tidak bisa digunakan pada bayi bayi tertentu padahal masih under 10 kg. 

Enphilia First Batch

 

Enphilia Original 2.0

Nah, dengan pertimbangan bahwa bayi baru lahir sebenarnya tidak terlalu perlu pocket diaper (lebih cocok pakai flat atau prefold), akhirnya sizing Enphilia diubah, yaitu lebih memprioritaskan ukuran yang lebih besar, yaitu 5 kg ke atas. However, untuk memfasilitasi masukan yang begitu bertubi tubi (beneran lhooo bertubi tubi) untuk memasang snap pada Enphilia original, akhirnya terciptalah varian Crispy.  

Enphilia Crispy

   

Kenapa kok pake 2 varian sgala? knapa gak jadi Crispy aja smuanya? Karena: (1) dengan pasang snap = nambah biaya produksi yang artiya kudu naikin harga, padahal cita cita dahulu adalah membuat popok murah, -tp kenyataannya naik terus krn ganti komponen yg lebih mahal lah ini lah itulah, hikx. (2) snap hanya akan dipakai sebentar kok, bayi kan cepet besar, 2-3 bln juga udah ndut dan udah muat yang tanpa snap.Seiring berjalannya waktu, seiring makin bekennya popok kain modern, banyak ibu ibu yang udah pengen memakaikan anaknya popok ala modern ini sejak bayinya lahir, bahkan blanja blanji popok sebelum anaknya lahir, dan sebagai orang yang berusaha sesubyektif mungkin ngasih masukan, jujur aja saya nggak akan pernah merekomendasikan newborn menggunakan ONESIZE pocket diaper kalo ditanya oleh seorang newbie. Oke, ada pengatur ukuran, tp umumnya kalo onesize, pasti kalo dipake NB ngga proporsional.So… mulai mikirlah diriku utk bikin petit size nya. Tapi, jika nantinya ada 3 varian (petit, original, crispy), maka akan ada rentang ukuran yang tumpang tindih dan itu malah akan bikin orang bingung. Petit =3-10 kg, original =5-15 kg, crispy= 3-15 kg. Jika nantinya ada 2 varian: petit dan original saja, prediksi keluhan yang akan terjadi adalah: 

 yahhh ada 2 ukuran, musti beli 2x dehhh 

 Tapi sebenarnya sekarang (dgn ada varian original dan crispy), common complain nya adalah: 

 newborn dipakein crispy bulky buangeeetttt 

 So… mana yaaa yg lebih baiikk???? Mengumpulkan pandangan niiihhh 

  

Tags: ,

Salah Kaprah Istilah CLODI dan DIAPER

Posted on Friday 8/13/2010 at 10:55 | Category: Articles

Mana yg lebih baik, diaper, popok kain atau clodi

Mohon maaf, jika saya membaca judul itu dari blog seseorang, biasanya saya baca sambil lalu saja sambil tersenyum, atau menuliskan private message kepada penulisnya. Tapi jika saya membaca judul tersebut pada sebuah majalah utk orangtua, saya, sebagai orang yang lebih dari setahun terakhir ini termasuk gencar mensosialisasikan popok kain, sangat terganggu, dan merasa sia sia perjuangan slama ini meluruskan salah kaprah yang terjadi di masyarakat.

Judul tersebut mencampurkan bahasa Indonesia dan bahasa inggris, di mana jika saya terjemahkan semua dalam bahasa Indonesia, maka judulnya akan menjadi begini

“Mana yg lebih baik, POPOK, popok kain atau POPOK KAIN”

Ada 2 kesalahan, yaitu mengenai istilah DIAPER dan CLODI. 2 kesalahan ini sering saya temui di masyarakat awam, di mana saya sering mengkoreksinya. Tapi saya rasa sebuah majalah tidak boleh melakukan kesalahan ini.

DIAPER

Orang mengasosiasikan istilah “DIAPER” sebagai popok sekali pakai. Saya tidak mau memusingkan hal ini jika yang menyebut ibu ibu awam, karena di dunia kita, kita jg sering menyebut “PAMPERS” (sebuah merek) utk menyebut popok sekali pakai seperti halnya ODOL, AQUA, dll. So what gitu lho, itu sudah jadi kebiasaan.

Tapi dari segi bahasa, DIAPER itu adalah popok. Bisa popok apa saja. Bisa disambungkan dengan kata apa saja supaya menjadi frase: disposable diaper, bisa cloth diaper, reusable diaper, washable diaper.

Yuk kita tengok WIKIPEDIA

A diaper (in North America) or nappy (in the United Kingdom, Ireland, Australia and many Commonwealth countries) is a sponge-like garment worn by individuals who are incapable of controlling their bladder or bowel movements, or are unable or unwilling to use a toilet. When diapers become full and can no longer hold any more waste, they require changing; this process is often performed by a secondary person such as a parent or caregiver. Failure to change a diaper on a regular enough basis can result in diaper rash.

Diapers have been worn throughout human history, and made of cloth or disposable materials.

Izinkan saya menterjemahkan kalimat terakhir: POPOK (dlm artikel tersebut disebut DIAPERS) sudah digunakan sepanjang sejarah manusia, dan terbuat dari bahan kain maupun disposable (langsung buang).

Kalo boleh saya simpulkan, DIAPERS itu sekarang ada 2 jenis, ada yang langsung buang (disposable diaper), ada yang pakai ulang/KAIN (cloth diaper)

CLODI

Entah siapa yang pertama kali mensosialisasikan istilah ini, but I really hate this term. Dalam komunikasi saya dengan pelanggan, saya tidak pernah menggunakan kata ini. Saya lebih suka menyebut popok kain, atau sekalian ‘cloth diaper’. Dan saya paling merengut  kalau ada seseorang yang bilang

                “Haloo… mau tanya tanya, maklum nih masih baru di dunia clodi”

Ahh yang benarr??? Clodi (a.k.a popok kain) adalah hal yang sudah dikenal sepanjang sejarah manusia, and u re new to it?? Tapi saya ngga bisa nyalahin jg siiih, karena mereka tau istilah CLODI juga dari orang orang lain. Kalo boleh saya revisi, seharusnya

                   “Haloo… mau tanya tanya, maklum nih masih baru kenal popok modern”

Kalo saya menyebut istilah clodi dalam website ini, itu pasti copy paste dari deksripsi produsen, dan saya membolehkan istilah itu ada di sini asalkan tidak menimbulkan salah kaprah.  Misalnya

                YYY adalah clodi merek lokal yang terbuat dari blah blah blah

See? Kalimat tersebut tidak menimbulkan salah kaprah. Jadi it’s ok lah.

Yang menjadi salah adalah jika orang menyebut clodi identik dengan salah satu jenis popok kain modern yaitu pocket diaper. Pocket diaper hanya salah satu jenis “CLODI”, selain pocket diaper ada flat, fitted, all in one, all in two, dan lain lain, makin ke sini makin banyak varian baru.

Kalo dipikir pikir, salah kaprah CLODI ini munculnya karena salah kaprah tentang DIAPER. Sebab, orang sudah berasumsi bahwa DIAPER itu adalah popok sekali pakai (atau orang sering sebut PAMPERS), maka CLOTH DIAPER diasosiasikan sebagai pampers kain, alias popok yang serupa dengan popok sekali pakai tapi terbuat dari kain.

Hal ini menimbulkan ‘keanehan’ yang lain, misalnya muncul pertanyaan seperti berikut:

                “Ini pampers yang bisa dicuci yah?”

Kalau salah kaprah tentang diaper dan clodi tidak ada, pertanyaan seperti itu pun seharusnya tidak pernah ada. Tentu saja, namanya popok dari kain ya JELAS bisa dicuci. Kenapa coba tiba tiba ada ide di benak orang yang mempertanyakan jangan jangan popok kain ini tidak bisa dicuci?

Ide semacam itu muncul karena salah tangkap tentang diaper dan clodi, sehingga saat istilah ‘diaper’ muncul, maka popok ini dicurigai seperti ‘diaper diaper’ pada umumnya, yang tidak bisa dicuci.

But well, what can I say? Ketika suatu komunitas menyetujui suatu istilah sebagai kesepatakatan bersama, so be it. Yang benar adalah yang mayoritas *sigh*. Saya hanya berharap istilah yang saya anggap salah kaprah itu tidak menyebar terlalu cepat sehingga saya tidak perlu jadi minoritas dan berbalik menjadi pihak yang salah. Hiks..

Tags: ,

Enphilia di DAAI TV

Posted on Wednesday 8/4/2010 at 12:07 | Category: Rumah Popok on Media

Tags: ,

Rumah Popok & Lingkungan

Posted on Tuesday 7/27/2010 at 4:05 | Category: Uncategorized

 

Tags: ,

Go Public

Posted on Tuesday 7/20/2010 at 6:44 | Category: Cerita
 

Bazar Kumkum di Museum Mandiri April 2010 

 

  

  

 

 

 Minimalis skalee yaaa hehehehe…. 

 

Dibeli buu.. dibeli organizernya…. 

   

Bazar Hari Belanja Sedunia 

Bazar Pertama

  

 Panas skali di situ… pulang2 teparrr 

On Inspired Kids Mag, June 2010 

Pelakunya kita samarkan saja ya supaya aman :D

Tags: ,

cari nama

Posted on Monday 7/19/2010 at 5:07 | Category: Cerita

Mumet’e aku golek jeneng nggo varian Enphilia sing anyar
dibedain soalnya emang bahan beda cara jait beda. Sebenernya ga mo bikin nama baru, tapi kalo nama nya sama enphilia mumet aku terima pesenan.

Soalnya gayanya orang kalo pesen tu gini lho:

“mbak.. mo pesen enphilia ya 5 biji”

enphilia maksutnyah yang manaaa???? palage skarang niat mo ada produk2 baru, pan ada soaker pad, ada fleece liner, ada tetra..

Jadinya ya terpaksa kudu dinamain. Walopun label di jaitannya tetep enphilia (Lha masih banyak stoknya seh hahahaaaaaaa)

BAPAK BAPAK IBU IBU SEKALIAN, yang mau nyumbang nama boleeehhh, ntar yang namanya dipake akan dapet hadiah popok yang bersangkutan, hohoho…

Tags: ,

Kata orang tentang produk di sini…

Posted on Sunday 7/18/2010 at 2:48 | Category: Cerita

Banyak yang bertanya pada kami , minta dipilihkan, dan bertanya mana yang paling baik.

Honestly, kami tidak tahu apa yang terbaik untuk Bunda. Berikut ini adalah komentar2 pengguna popok kain yang pernah saya dengar (diambil poinnya aja)

A: “duhhh aku suka bangeeettt sama enphilia, cinta mati dehhhh. cepet keriing” –> reseller enphilia yg setia

B:” bu kok enphilia tebel gitu ya, anakku jadi kaya bebek” –> kalo dipakein terry insert katun memang tebel banget, namanya jg solusi ekonomis.. hehe, kami hana memberikan option

C: “sy jualan yang paling laku enphilia, GG ngga terlalu laku”

D: ” wah mba, saya nyetanin semuaaa orang untuk beli GG. GG mantep bangett, semaleman dipake ga bocor, dah gitu murah meriah lagi. Kalo ada yang nanya mana popok murah yang bagus, i would recommend GG” –> akhirnya jadi reseller GG, krn cinta banget sama GG

E (seorang ibu yg dah nyobain bermacam2 jenis popok lokal):”Bu, mo beli ziya, dan ZZ, buat ngado nihhh..” –> seorang ibu yang ga terlalu bermasalah dgn details spt daya tahan, daya tampung, intinya kalo dah saatnya ganti alias rembes dikit, ya ganti aja gitu aja kok repot

F: “saya liat ziya di babyshop, ngga suka… kayaknya kaku gitu”

G:”haahhh ziya nya lucu lucu bangetttt motifnya, ngga nyesel deh belinya” –> pelanggan setia rumah popok

H:”ziya itu inovasinya bagus yah, konsepnya beda ma yg lain, pake adjustable snap, bagus” –> pengamat popok kain lokal yang rajin coba2in

I: “Pake popok lain kaki anakku merah2, pake enphilia ngga merah” –> yang anaknya kulitnya cukup sensitif

 

Komentar plus minus gini terjadi pada hampir setiap merek yang dijual di sini.

Pesan yang ingin kami sampaikan adalah, cloth diaper is about taste, selera. Ada orang yang suka asem ga suka manis. Ada yang ga suka asem suka manis. You’ll never know until you try. Seperti halnya pakaian, kadang di toko terlihat imut dan lucu, dicobain sekali jg oke. Tapi pas bener2 dipakai, baru ketauan apakah baju itu nyaman atau tidak.

Kenapa kok nulis hal seperti ini???

Karena terkadang kami dihadapkan dengan pembeli yang setelah memakaikan anaknya popok hasil belanja di sini, mereka tidak puas, tidak suka. Pernah juga ada yang minta barang ditukar karena berubah pikiran setelah barang sampai (entah kenapa — saya tebak karena beliau tidak membaca dekskripsi produk dengan baik dan berpikir diaper cover 10ribuan seperti popok impor.. ehm.. sperti roomparooz misalnya). Kami senang menampung feedback dari Bunda dan Ayah sekalian, TAPI suka atau bencinya Bunda dan Ayah terhadap barang belanjaannya, itu di luar tanggung jawab kami yaa:)

Yang kami usahakan adalah menjual produk yang kami suka, dengan segmen kelas yang beragam (murah dan menengah), dan menjabarkan deskripsi produk sejelas mungkin:)

So… please read before you buy:)

Tags: ,

Popok dan Lingkungan

Posted on Friday 7/16/2010 at 7:27 | Category: Articles

Perdebatan tentang kontribusi lingkungan dari popok kain dan pospak memang ada. Kalangan pro pospak mengatakan bahwa menggunakan popok kain memiliki konsekuensi penggunaan air yang ekstra, penggunaan deterjen yang mencemari air tanah, dsb. Kalangan pro popok kain mengatakan penggunaan pospak berarti menambah limbah padat yang cukup signifikan terhadap TPA, dan kandungan tinja berbahaya apabila masuk ke dalam air tanah.

Menurut pendapat saya, kita tidak bisa begitu saja menyalahkan deterjen dan air untuk mencuci popok kain, karena tanpa popok kain pun, kita sudah menggunakan air. Anggap saja popok itu adalah pakaian dalam bayi (karena toh bayi hanya menggunakan popok kan? Tidak pakai ‘pakaian dalam’), sama dengan orang dewasa yang sehari hari menggunakan pakaian dalam. Penggunaan air ekstra adalah konsekuensi alami dari manusia ‘ekstra’ yang datang ke bumi. Tanpa kelahiran bayi pun, kita bisa jadi memang sudah menggunakan deterjen tidak ramah lingkungan. Jadi jika ada pencemaran deterjen di badan air dan air tanah, itu adalah kesalahan orang dewasa yang tidak mau mempertimbangkan deterjen yang ramah lingkungan. Selain itu, walaupun air semakin menipis, air adalah tetap sumber daya alam yang bisa diperbaharui. Lagipula mari kita pikir, apakah volume air untuk mencuci popok sebegitu signifikan-nya? Adapun pospak? Tetap saja butuh waktu 500 tahun untuk menguraikannya.

Ada satu hal yang menarik perhatian saya. Pup bayi (feses manusia), itu seharusnya masuk ke saluran khusus yang dibawa dari WC ke instalasi pengolah air buangan, tidak boleh masuk ke TPA. Apabila kita cermati kemasan pospak, maka di dalamnya ada instruksi untuk membuang pup bayi terlebih dahulu ke WC, sebelum membuang popok tersebut. Apakah para orangtua melakukannya? Saya tidak mau berprasangka buruk, tapi sejujurnya, saya tidak yakin, karena saya sendiripun cenderung malas repot apabila mengenakan bayi saya pospak. Dengan popok kain, mau tidak mau, kita harus membuang pup terlebih dahulu ke WC, sehingga kecenderungan untuk terjadi pencemaran tinja justru lebih dapat dikurangi.

Harap diingat bahwa setiap kegiatan manusia pasti menimbulkan dampak lingkungan. Apalagi selama kita menggunakan energy (listrik, bensin, dll), maka mau tidak mau kita berkontribusi terhadap kerusakan lingkungan. Jejak ‘dosa’ kita terhadap alam ini yang disebut jejak ekologis. Selama ‘kerusakan’ yang kita buat masih dapat diimbangi dengan kemampuan alami lingkungan untuk memulihkan diri, maka itu masih wajar wajar saja. Mengenai kontribusi kerusakan lingkungan popok kain dan pospak, ada baiknya kita melihat dari sisi: mana yang lebih banyak jejak ekologisnya? Dan menurut beberapa sumber (sebagai contoh dari http://www.dummies.com/how-to/content/diapers-cloth-versus-disposable.seriesId-92323.htm l#glossary-carbon_footprint;_ecological_footprint), jejak ekologis pospak adalah 2 kali lipat dibanding popok kain.

Ok, mari kita mencari sebuah sumber yang lebih netral. Dari sumber http://www.thedailygreen.com, Dr. Alan Greene (chief medical officer of A.D.A.M., chair of The Organic Center, a member of the advisory board of Healthy Child Healthy World and clinical professor of pediatrics at Stanford University’s Packard Children’s Hospital) mengamati sebuah studi dilakukan oleh Badan Lingkungan di England dan Wales. Kelompok peneliti membandingkan pospak, popok kain yang dicuci di rumah, dan popok kain yang dicuci di tempat mencuci komersial dalam hal kontribusi terhadap pemanasan global, penipisan ozon, pembentukan SMOG, dan penipisan sumberdaya alam yang tidak bisa diperbarui, pencemaran air, asidifikasi, toksisitas, dan polusi tanah. Studi ini tidak merekomendasikan pilihan apapun karena menurut para peneliti ini, semua menimbulkan dampak lingkungan. Walaupun menurut Dr. Alan Greene, seorang dokter anak, studi ini kurang lengkap karena di dalamnya tidak memperhatikan proses sangat awal dari produksinya, misalnya darimana asal asal liner plastic pospak, penebangan pohon, hingga penanaman kapas, karena akan ada perbedaan yang besar antara kapas yang tumbuh dengan kontribusi zat kimia toksik dan kapas organic, antara hutan yang berkelanjutan dengan hutan yang asal dibabat. Oke, kita anggap saja hasil penelitian Badan Lingkungan di Inggris akurat. Menurut Badan Lingkungan ini, yang penting adalah tindakan selanjutnya yang dapat mengurangi dampak popok. Misalnya bagi pemakai popok kain, mereka harus melakukan efisiensi energy dan hemat air (mudah bukan?). Jika memilih pospak, maka pilihlah produk dari produsen yang peduli lingkungan (green manufacture), yang biodegradable dan yang biasanya juga tidak mengandung klorin (lihat pembahasan mengenai popok dan kesehatan pada tulisan selanjutnya). The big question is… apakah pospak yang umum dijual di Indonesia itu bebas klorin dan biodegradable (dapat terurai)?

Memang rasanya kurang adil jika mengeneralisir. Namun saya pernah melihat pospak impor dan mengklaim produknya ramah lingkungan, harganya.. hmmm.. kruk kruk kruk…


 

Popok dan Kesehatan

Posted on Friday 7/16/2010 at 7:26 | Category: Articles

Yang menjadi pertimbangan utama bagi orangtua adalah menjaga agar kulit bayi tetap kering, sehat, bebas ruam popok. Banyak hal menjadi sebab ruam popok, misalnya basah yang terlalu lama, kurangnya sirkulasi udara, sabun, zat kimia, alergi zat warna, ammonia yang terbentuk karena interaksi bakteri pada pup bayi dengan urin.

Yang menjadi perhatian kesehatan terkait pospak adalah pewarna sodium polyacrylate (gel penyerap), dan dioksin, yang merupakan produk sampingan kertas (tisu) yang diputihkan. Pada masa lalu, Sodium polyacrylate sering dikaitkan dengan sindrom toxic shock, reaksi alergi, dan juga berbahaya karena ternyata bersifat letal terhadap binatang. Beberapa jenis pewarna dan dioksin menurut EPA (Environmental Protection Agency) diketahui dapat merusak sistem saraf pusat, ginjal, dan hati. (FDA) Food & Drug Administration menerima laporan bahwa aroma pada pospak dapat menyebabkan sakit kepala dan ruam. Ada beberapa laporan konsumen (di Amerika) yang terkait pospak, misalnya bau insektisida, bayi yang merobek robek pospaknya dan memasukkan potongan plastic ke dalam mulut dan hidung, tersedak karena perekat dan pelapis. Perekat plastic juga dapat melukai kulit jika salah pakai.

Menurut Journal of Pediatrics, 54 % bayi berumur 1 tahun yang menggunakan pospak mengalami ruam, 16% mengalami ruam parah. Sebuah penelitian yang dilakukan oleh sebuah produsen pospak (nama tidak disebutkan, yang pasti salah satu produsen terbesar), menunjukkan bahwa insidensi ruam popok meningkat dari 7.1% menjadi 61% seiring dengan peningkatan penggunaan pospak.

Namun bagaimanapun juga, harap diingat bahwa setiap bayi berbeda. Bisa jadi ada orang tua yang menemukan bahwa tidak ada masalah dengan bayinya yang menggunakan pospak. Pengguna popok kain juga tidak semerta merta menjadi selamat J Popok kain bisa juga menyebabkan ruam apabila tidak sering diganti dan tidak dibersihkan/dicuci dengan baik setelah terkena fese.

Semuanya tergantung dari pilihan pribadi, reaksi bayi terhadap jenis pospak merek tertentu, dan bagaimana intuisi kita saat memilih popok kain atau pospak.

Cara terbaik untuk mencegah ruam popok adalah mengganti popok, kain maupun disposable, secara rutin. Walaupun pospak mampu menahan urin dalam jumlah banyak, tetap saja kulit akan basah walaupun sedikit, yang dapat menyebabkan ruam. Adapun popok kain seharusnya diganti segera setelah popok basah, dan popok harus dibersihkan secara tuntas agar bakteri di popok mati.

Sumber: http://www.thenewparentsguide.com/diapers.htm

Page 2 of 3123
Email : rumah popok.
Copyright © 2011 Rumah Popok.com. Convenient & Affordable Cloth Diapering