
Your shopping cart is empty
Makin banyak busanya, makin mantap, makin bagus, begitu kira kira image tentang sebuah deterjen yang berkualitas.
Image sesat yang berhasil tertanam:D . Lagipula, kalau ngga banyak busa, rasanya ngga bersih… padahal…
Busa itu korelasinya sangat kecil dibandingkan daya bersih. Bersih nggaknya tergantung pada elemen yang disebut surfaktan.
Busa itu menyebabkan pencemaran pada badan air, karena sulit terurai. Akibatnya? Sungai sungai kita baunya apek sampai busuk karena suplai oksigen kurang. Sebabnya ya salah satunya karena busa yang menutupi permukaan air.
Masalahnya, surfaktan ini juga menjadi biang kerok lain masalah lingkungan karena tidak mudah terurai oleh lingkungan. Jadi… perhatikan surfaktan apa yang dipakai. LAS atau LABS konon bisa terurai. ABS tidak bisa, dan sudah masuk daftar hitamnya Greenpeace.
Jadi ibu ibu bapak bapak, untuk membuat gerakan cinta lingkungan ayah dan bunda menjadi makin maknyoss, bijaklah dalam memilih deterjen. Memang sih sertifikasi di kita belum sempurna, tapi paling tidak kita melalukan upaya identifikasi yang simpel simpel aja (khusus yang awam). Buat yang pakar kimia, dimohonkan bantuannya untuk sumbang saran deterjen seperti apakah yang ramah lingkungan.
Tipsnya yaitu:
Untuk mencuci popok bayi bayi kita nan lucu, perlu ditambahkan kriteria tidak mengandung pemutih dan pelembut (betapa susahnyaaaa mencari deterjen di supermarket yang tanpa pemutih dan pelembut, udah pada dicampurrrr).
Ada yang menyangkal penggunaan popok kain ini menjadi tidak ramah lingkungan dengan alasan menghabiskan deterjen, mencemari badan air, dan meningkatkan konsumsi air. Mbel!. Kalau kita bisa bijak dalam mencuci, kita bisa berantas opini absurd ini.