rumah popok

Rumah Popok Blog

Ada apa dengan Breathability

Posted on Thursday 7/15/2010 at 10:40 | Category: Articles

*Tulisan ini sifatnya subyektif, hasil menyimpulkan dari baca baca sana sini, bukan menjudge benar atau salah*

Sewaktu mulai mengenal popok kain modern, saya banyak membaca tentang breathability. Waktu itu, saya mendefinisikan breathability seperti akar katanya, “breath”=nafas, “able”= bisa. Jadi breathable=artinya bisa bernafas, nafasnya adalah nafas kita, nafas manusia. Jadi, jika suatu popok disebut breathable, maka ketika kita meniup kain itu di satu sisi, maka udaranya akan lolos ke sisi lainnya. Setelah saya beli sebuah popok nan mahal untuk Raul, dan mengetahui bahwa nafas saya ngga tembus ke sisi lainnya, saya langsung menjudge bahwa popok ini tidak breathable. Kesimpulan ini pun diperkuat dengan hasil baca baca di sebuah toko online bahan popok yang memberi pernyataan bahwa di situ dijual berbagai jenis PUL, antara lain PUL breathable dan PUL non breathable ( di situ juga dijual berbagai ketebalan 1 mil, 1.5 mil, dan juga tipe sandwich). Dari semua jenis PUL ini, SEMUA bisa digunakan untuk cloth diaper, termasuk PUL non breathable. PUL yang breathable diciptakan khusus untuk bayi yang memiliki masalah dengan sensitivitas kulit.

Jadi, punya popok yang ‘what so called breathable, itu bukan hal yang mutlak.

Kemudian saya dapet info info lagi bahwa ternyata definisi breathable itu bukan ‘bisa dilewati nafas manusia’. Kain yang breathable adalah kain rajut yang serat serat kainnya masih memungkinkan adanya pertukaran udara, sehingga panas tidak tersimpan di satu sisi dan bisa terlepas (walaupun kalau ditiup manusia tetep aja ngga bisa ditiup).

DI Rumah Popok sendiri dijual beberapa jenis popok yang terbuat dari bahan plastik, alias non rajut, alias tidak breathable. Membedakan plastik dan bukan plastik ini simpel aja. Bahan plastik jika ditarik kuat kuat bisa sobek, sedangkan bahan knitted (bukan plastik), walaupun terkadang tampak serupa, tapi jika ditarik tidak bisa sobek, tidak bisa molor. Bahan plastik, selama masih utuh dan tidak sobek, adalah jaminan anti tembus air 100%!! Lain halnya dengan bahan knitted yang sering disebut waterproof. Walaupun disebut waterproof, tapi belum tentu anti air 100%. Coba saja perhatikan tenda. Tenda adalah sebuah barang yang memiliki kepentingan sangat besarrr untuk dibuat dari bahan waterproof. Perhatikan jika hujan. Memang tidak tembus. Tapi coba pegang kainnya, maka kita bisa rasakan kainnya sebenarnya basah di dalam.

Kembali lagi ke non breathability. Dari opini yang terbentuk secara sendirinya di pasar, popok non breathable adalah barang yang ‘haram’, kualitas buruk, tidak boleh digunakan. Ini adalah hal yang sangat tidak saya setujui (bukan karena saya jualan popok non breathable lho yah). Di Rumah Popok, saya jualan produk yang saya suka, termasuk celana plastik, yang sangat sangat membantu saya waktu Raul masih newborn. Secara material, memang beberapa produk tidak bisa mensirkulasikan udara. Tapi ingat, bahannya lho ya. Apa berarti kulit bayi tidak bisa terpapar udara? Nah ini yang tidak masuk akal. Coba perhatikan semua jenis popok yang kita punya, perhatikan waktu dipakai. Seketat ketatnya bagian bukaan kaki (lingkar paha), bagian itu sering terbuka ketika bayi/anak kita bergerak gerak. Selama ini saya belum pernah melihat popok popok ini jika dipakai maka akan menyebabkan bagian lingkar pahanya tertutup sama sekali. Pada saat bayi bergerak, kaki dinaikkan ke atas (untuk newborn), jongkok, jalan, merangkak, bagian ini terpapar udara dengan intensitas yang menurut saya cukup sering. Tingkat sirkulasi udaranya memang masih lebih baik popok yang breathable, maka dari itu, jika menggunakan popok plastik, frekuensi ganti popoknya harus lebih sering daripada popok breathable.

Jadi pesan nya adalah, ngga usah terlalu parno dengan breathability ya Bun  kecuali si kecil memang punya kulit yang super sensitif, di mana kasus seperti kulit sensitif ini (menurut saya) kecil kasusnya.

Pesan yang lain adalah, sebagus bagusnya breathability popok, yang terbaik adalah rajin ganti. Saya pribadi menyarankan ganti tiap 3-4 jam, walaupun popoknya hebat banget bisa nahan sampai 12 jam. Happy diapering!

Memilih Deterjen Yang Ramah Bumi

Posted on Thursday 7/15/2010 at 10:34 | Category: Articles

Makin banyak busanya, makin mantap, makin bagus, begitu kira kira image tentang sebuah deterjen yang berkualitas.

Image sesat yang berhasil tertanam:D . Lagipula, kalau ngga banyak busa, rasanya ngga bersih… padahal…

Busa itu korelasinya sangat kecil dibandingkan daya bersih. Bersih nggaknya tergantung pada elemen yang disebut surfaktan.

Busa itu  menyebabkan pencemaran pada badan air, karena sulit terurai. Akibatnya? Sungai sungai kita baunya apek sampai busuk karena suplai oksigen kurang. Sebabnya ya salah satunya karena busa yang menutupi permukaan air.

Masalahnya, surfaktan ini juga menjadi biang kerok lain masalah lingkungan karena tidak mudah terurai oleh lingkungan. Jadi… perhatikan surfaktan apa yang dipakai. LAS atau LABS konon bisa terurai. ABS tidak bisa, dan sudah masuk daftar hitamnya Greenpeace.

Jadi ibu ibu bapak bapak, untuk membuat gerakan cinta lingkungan ayah dan bunda menjadi makin maknyoss, bijaklah dalam memilih deterjen. Memang sih sertifikasi di kita belum sempurna, tapi paling tidak kita melalukan upaya identifikasi yang simpel simpel aja (khusus yang awam). Buat yang pakar kimia, dimohonkan bantuannya untuk sumbang saran deterjen seperti apakah yang ramah lingkungan.

Tipsnya yaitu:

  • Cari deterjen yang sedikit busanya. Dengan sedikit busa, air untuk membilas juga tidak perlu banyak.
  • Cari deterjen yang jika sisa air cuciannya bisa untuk menyiram tanaman tanpa membuat tanaman mati
  • Cari deterjen yang rendah fosfat. Jikapun mengandung fosfat, sebisa mungkin digunakan untuk menyiram tanaman, karena fosfat itu tidak baik untuk badan air, tapi oke oke aja untuk tanah dan tanaman.

Untuk mencuci popok bayi bayi kita nan lucu, perlu ditambahkan kriteria tidak mengandung pemutih dan pelembut (betapa susahnyaaaa mencari deterjen di supermarket yang tanpa pemutih dan pelembut, udah pada dicampurrrr).

Ada yang menyangkal penggunaan popok kain ini menjadi tidak ramah lingkungan dengan alasan menghabiskan deterjen, mencemari badan air, dan meningkatkan konsumsi air. Mbel!. Kalau kita bisa bijak dalam mencuci, kita bisa berantas opini absurd ini.

Seberapa Banyak Pipis Bayi?

Posted on Friday 7/9/2010 at 4:30 | Category: Articles

Segala penjelasan tentang ‘untuk berapa kali pipis’ di rumah popok adalah estimasi, yang utamanya berdasarkan riset pada baby Raul (which is, hanya dengan obyek riset 1 bayi). Jadi kalau ada kesaksian tentang popok yang bisa tembus padahal baru 1-2 kali pipis (padahal di baby Raul bisa semalaman, begitu pula testimoni banyak pengguna popok kain x yang lain), ternyata… itu memang hal yang mungkin terjadi pada popok manapun. Menurut pengalaman, smua popok bisa tembus, TERMASUK disposable diaper merek yang konon paling yahud, tidak terkecuali jg clodi impor (Sempat mengalami beberapa kali tembus pake pospak waktu libur lebaran, padahal popoknya blm penuh: sebabnya karena digendong samping yg menyebabkan jalur pipisnya tertekan di pinggang). Yang bisa dilakukan hanya memberi deskripsi produk sejelas mungkin berdasarkan pengalaman. Sayangnya, tiap bayi itu berbeda. Ini yang tidak terhindarkan. Bunda harus melakukan riset sendiri. Agak agak trial error juga memang kalau beli popok. Kalopun jualan offline pun tidak mungkin popoknya dicobakan kena pipis bayi untuk mengecek daya tampung bukan?

Alhamdulillah, dapat sumber bermanfaat tentang kapasitas kandung kemih anak:

Dr. Preston Smith, seorang pakar urologi dan urologi anak menyatakan bahwa kandung kemih anak besarnya bervariasi. Bisa dipengaruhi tinggi, berat, dan genetik. Studi menunjukkan bahwa anak yang kandung kemihnya kecil lebih cenderung banyak pipis di malam hari. TIDAK ADA cara mudah untuk mengukur ukurannya. Cara paling akurat adalah memasang kateter.

Tapiiii ngomong ngomooong, iseng amat yaaa mau masang kateter (yang menyakitkan itu) hanya untuk mengukur kandung kemih secara akurat.

Akhirnya kita coba pakai cara kira kira lagi. Tapi ngga apa apa deh yaa, ada referensi baru. Ada 2 referensi nih:

(1) Great Dad (http://www.greatdad.com/), sebuah website untuk kaum ayah

Tipikalnya, ukuran kandung kemih anak adalah umur (dalam tahun)+ 2 ons. Jadi anak 6 tahun punya kapasitas kandung kemih 8 ons (240 ml).

Misalnya bayi (let say anak 1 tahun). Maka dia punya kapasitas kandung kemih 1+2= 3 ons (90 ml). Jadi, sebanyak banyaknya bayi pipis sampai bladder nya kosong, kira kira yang dikeluarkan adalah 90 ml. Bayi dengan umur lebih muda tentunya lebih sedikit lagi.

(2) Doctor Guide (http://www.docguide.com )

Adapun sumber lain ada yang menyebutkan tentang Functional Bladder Capacity (FBC), yaitu volume kandung kemih yang diperlukan untuk dipenuhi saat anak/bayi merasa INGIN pipis. Bayi baru lahir memiliki kandung kemih fungsional sebesar 30 ml. Tidak seperti anak yang sudah toilet training, secara logika bayi tidak menahan pipis. Saat ingin pipis, maka mereka akan pipis, tidak harus menunggu kandung kemih penuh.

Menurut sumber ini, rumusnya sebagai berikut:

(ml) = [30 x (age in years + 1)].

Jadi, bayi 1 tahun kapasitas kandung kemih fungsional nya 60 ml. Kalau kurang dari 1 tahun, ya kurang jg dari 60 ml, dihitung saja berdasarkan rumus di atas.

Namun, untuk studi kasus popok ini, sepertinya yang logis diambil adalah referensi kedua, karena pada bayi, jarang sekali ada bayi menahan pipis hingga kandung kemihnya penuh, kecuali bayi bayi tertentu yang memang sudah ‘terlatih’ pipis di toilet, yang  risih jika dipaksa pipis di popok, sehingga kandung kemihnya cenderung lebih penuh karena menahan pipis.

Dengan referensi ini, maka daya tampung insert yang dijual di Rumah Popok adalah sbb:

(1)   Insert Handuk Katun: plus minus 150 ml –> 2-3 kali pipis yang banyak.

(2)   Carrie Microfiber dilipat 3: 100-120 ml–> 2 kali pipis yang banyak

(3)   Carrie Microfiber dilipat 4: 120-150 ml–> 2-3 kali pipis yang banyak

Catatan: Bayi tidak selalu pipis sebanyak 60 ml setiap kali. Jadi angka di atas adalah angka estimasi minimal (jika bayi pipisnya maksimal)

Jadi… untuk berapa jam 1 popok bisa bertahan? Ini juga perlu riset kecil untuk masing masing bayi. Ada bayi yang jarang sekali pipis di malam hari, sehingga 1 popok kain cukup untuk semalaman. Ada juga yang perlu ganti 1 kali di tengah malam. Iklan produk produk tertentu (termasuk popok sekali pakai) tentang daya tahan popok juga merupakan estimasi.

Jadi.. buat Bunda, happy researching

Page 2 of 212
Email : rumah popok.
Copyright © 2011 Rumah Popok.com. Convenient & Affordable Cloth Diapering