rumah popok

Rumah Popok Blog

Ruam Popok

Posted on Monday 1/16/2012 at 11:53 | Category: Articles

Sebenarnya istilah ruam popok memiliki istilah umum yaitu ‘iritasi kulit’ yang terjadi pada wilayah yang tertutup oleh popok. Kategori ruam popok pun bermacam-macam

Ruam Popok atau diaper rash (bahasa medisnya diaper dermatitis) adalah hal yang sangat mungkin terjadi pada bayi. Yang terancam mengalami ini bukan hanya yang menggunakan popok sekali pakai lho. Yang pakai popok kain/clodi juga. Namun, memang risiko terkena ruam popok lebih besar pada pengguna popok sekali pakai.

Pada prinsipnya, ruam popok bisa terjadi karena hal hal berikut:

- Terlalu lama menggunakan popok, sehingga kulit terlalu lama kontak dengan urine atau feses.

- Alergi dengan bahan celana/popok yang digunakan. Bisa saja alergi terhadap bahan popok sekali pakai (pulp/kertas), bahan kain sintetis, pewarna pakaian, atau bahan alami yang non organik.

- Menggunakan popok dengan sirkulasi udara rendah dalam waktu lama

Pencegahan ruam popok

- Ganti popok yang rajin (kira kira 2 jam sekali)

- Ganti popok sesegera mungkin jika bayi pup

- Coba ganti merk popok

- Cuci popok kain/clodi dengan bersih tambahkan ½ cup cuka pada air cuciam. Ini bisa menghilangkan zat iritan basa.

- Yakinnkan membersihkan pipis dan pup dengan bersih

- Gunakan lap yang tidak ditambahi pewangi

- Gunakan krim ruam. Bagaimana mengatasinya?

MENGATASI Ruam Popok

- Mengoleskan krim khusus ruam jika tetap menggunakan popok. Tidak semua bayi butuh ini sih. Ada 2 jenis krim ruam:

Krim berbasis minyak, lebih tidak lengket dan tidak ‘berantakan’
Dengan zinc oxide: sifatnya lebih pekat

- Jangan menggosok bagian yang ruam

- Biarkan bayi anda selama mungkin tidak menggunakan popok ataupun celana yang dicurigai sebagai sumber alergi. Jika sedang tidak menggunakan popok, tidak perlu menggunakan krim ruam.

Berikut ini adalah tips tambahan dari hasil kompilasi pengalaman ibu ibu untuk mengatasi ruam popok:

- Mengoleskan VCO (Virgin coconut oil)

- Mengoleskan minyak zaitun

Jenis jenis krim ruam

- Zinc oxide, untuk ruam tingkat keparahan moderate

- Acid mantle

- Clotrimazole anti-fungal, untuk ruam yang membandel, yang mungkin melibatkan jamur

- Hydrocortisone 1% cream, digunakan untuk kasus yang parah. Jangan digunakan dalam waktu terlalu lama (lebih baik konsultasi ke dokter)

Mengenai jenis jenis krim ini, jangan terlalu pusing ya bunda, bisa gunakan yang ‘standar’ yaitu zinc oxide dan acid mantle. Adapun jenis lain silakan dikonsultasikan ke dokternya, itu juga kalau parah ruamnya.

Demikian. Semoga bermanfaatJ

Popok vs Lingkungan

Posted on Wednesday 3/9/2011 at 12:31 | Category: Articles

Perdebatan tentang kontribusi lingkungan dari popok kain/clodi dan pospak memang ada. Kalangan pro pospak mengatakan bahwa menggunakan popok kain/clodi memiliki konsekuensi penggunaan air yang ekstra, penggunaan deterjen yang mencemari air tanah, dsb. Kalangan pro popok kain mengatakan penggunaan pospak berarti menambah limbah padat yang cukup signifikan terhadap TPA, dan kandungan tinja berbahaya apabila masuk ke dalam air tanah. Menurut pendapat saya, kita tidak bisa begitu saja menyalahkan deterjen dan air untuk mencuci popok kain, karena tanpa popok kain pun, kita sudah menggunakan air. Anggap saja popok itu adalah pakaian dalam bayi (karena toh bayi hanya menggunakan popok kan? Tidak pakai ‘pakaian dalam’), sama dengan orang dewasa yang sehari hari menggunakan pakaian dalam. Penggunaan air ekstra adalah konsekuensi alami dari manusia ‘ekstra’ yang datang ke bumi. Tanpa kelahiran bayi pun, kita bisa jadi memang sudah menggunakan deterjen tidak ramah lingkungan. Jadi jika ada pencemaran deterjen di badan air dan air tanah, itu adalah kesalahan orang dewasa yang tidak mau mempertimbangkan deterjen yang ramah lingkungan. Selain itu, walaupun air semakin menipis, air adalah tetap sumber daya alam yang bisa diperbaharui. Lagipula mari kita pikir, apakah volume air untuk mencuci popok sebegitu signifikan-nya? Adapun pospak? Tetap saja butuh waktu 500 tahun untuk menguraikannya. Ada satu hal yang menarik perhatian saya. Pup bayi (feses manusia), itu seharusnya masuk ke saluran khusus yang dibawa dari WC ke instalasi pengolah air buangan, tidak boleh masuk ke TPA. Apabila kita cermati kemasan pospak, maka di dalamnya ada instruksi untuk membuang pup bayi terlebih dahulu ke WC, sebelum membuang popok tersebut. Apakah para orangtua melakukannya? Saya tidak mau berprasangka buruk, tapi sejujurnya, saya tidak yakin, karena saya sendiripun cenderung malas repot apabila mengenakan bayi saya pospak. Dengan popok kain, mau tidak mau, kita harus membuang pup terlebih dahulu ke WC, sehingga kecenderungan untuk terjadi pencemaran tinja justru lebih dapat dikurangi. Harap diingat bahwa setiap kegiatan manusia pasti menimbulkan dampak lingkungan. Apalagi selama kita menggunakan energy (listrik, bensin, dll), maka mau tidak mau kita berkontribusi terhadap kerusakan lingkungan. Jejak ‘dosa’ kita terhadap alam ini yang disebut jejak ekologis. Selama ‘kerusakan’ yang kita buat masih dapat diimbangi dengan kemampuan alami lingkungan untuk memulihkan diri, maka itu masih wajar wajar saja. Mengenai kontribusi kerusakan lingkungan popok kain dan pospak, ada baiknya kita melihat dari sisi: mana yang lebih banyak jejak ekologisnya? Dan menurut beberapa sumber (sebagai contoh dari http://www.dummies.com/how-to/content/diapers-cloth-versus-disposable.seriesId-92323.htm l#glossary-carbon_footprint;_ecological_footprint), jejak ekologis pospak adalah 2 kali lipat dibanding popok kain. Ok, mari kita mencari sebuah sumber yang lebih netral. Dari sumber http://www.thedailygreen.com, Dr. Alan Greene (chief medical officer of A.D.A.M., chair of The Organic Center, a member of the advisory board of Healthy Child Healthy World and clinical professor of pediatrics at Stanford University’s Packard Children’s Hospital) mengamati sebuah studi dilakukan oleh Badan Lingkungan di England dan Wales. Kelompok peneliti membandingkan pospak, popok kain yang dicuci di rumah, dan popok kain yang dicuci di tempat mencuci komersial dalam hal kontribusi terhadap pemanasan global, penipisan ozon, pembentukan SMOG, dan penipisan sumberdaya alam yang tidak bisa diperbarui, pencemaran air, asidifikasi, toksisitas, dan polusi tanah. Studi ini tidak merekomendasikan pilihan apapun karena menurut para peneliti ini, semua menimbulkan dampak lingkungan. Walaupun menurut Dr. Alan Greene, seorang dokter anak, studi ini kurang lengkap karena di dalamnya tidak memperhatikan proses sangat awal dari produksinya, misalnya darimana asal asal liner plastic pospak, penebangan pohon, hingga penanaman kapas, karena akan ada perbedaan yang besar antara kapas yang tumbuh dengan kontribusi zat kimia toksik dan kapas organic, antara hutan yang berkelanjutan dengan hutan yang asal dibabat. Oke, kita anggap saja hasil penelitian Badan Lingkungan di Inggris akurat. Menurut Badan Lingkungan ini, yang penting adalah tindakan selanjutnya yang dapat mengurangi dampak popok. Misalnya bagi pemakai popok kain, mereka harus melakukan efisiensi energy dan hemat air (mudah bukan?). Jika memilih pospak, maka pilihlah produk dari produsen yang peduli lingkungan (green manufacture), yang biodegradable dan yang biasanya juga tidak mengandung klorin (lihat pembahasan mengenai popok dan kesehatan pada tulisan selanjutnya). The big question is… apakah pospak yang umum dijual di Indonesia itu bebas klorin dan biodegradable (dapat terurai)? Memang rasanya kurang adil jika mengeneralisir. Namun saya pernah melihat pospak impor dan mengklaim produknya ramah lingkungan, harganya.. hmmm.. kruk kruk kruk…

Salah Kaprah Istilah CLODI dan DIAPER

Posted on Friday 8/13/2010 at 10:55 | Category: Articles

Mana yg lebih baik, diaper, popok kain atau clodi

Mohon maaf, jika saya membaca judul itu dari blog seseorang, biasanya saya baca sambil lalu saja sambil tersenyum, atau menuliskan private message kepada penulisnya. Tapi jika saya membaca judul tersebut pada sebuah majalah utk orangtua, saya, sebagai orang yang lebih dari setahun terakhir ini termasuk gencar mensosialisasikan popok kain, sangat terganggu, dan merasa sia sia perjuangan slama ini meluruskan salah kaprah yang terjadi di masyarakat.

Judul tersebut mencampurkan bahasa Indonesia dan bahasa inggris, di mana jika saya terjemahkan semua dalam bahasa Indonesia, maka judulnya akan menjadi begini

“Mana yg lebih baik, POPOK, popok kain atau POPOK KAIN”

Ada 2 kesalahan, yaitu mengenai istilah DIAPER dan CLODI. 2 kesalahan ini sering saya temui di masyarakat awam, di mana saya sering mengkoreksinya. Tapi saya rasa sebuah majalah tidak boleh melakukan kesalahan ini.

DIAPER

Orang mengasosiasikan istilah “DIAPER” sebagai popok sekali pakai. Saya tidak mau memusingkan hal ini jika yang menyebut ibu ibu awam, karena di dunia kita, kita jg sering menyebut “PAMPERS” (sebuah merek) utk menyebut popok sekali pakai seperti halnya ODOL, AQUA, dll. So what gitu lho, itu sudah jadi kebiasaan.

Tapi dari segi bahasa, DIAPER itu adalah popok. Bisa popok apa saja. Bisa disambungkan dengan kata apa saja supaya menjadi frase: disposable diaper, bisa cloth diaper, reusable diaper, washable diaper.

Yuk kita tengok WIKIPEDIA

A diaper (in North America) or nappy (in the United Kingdom, Ireland, Australia and many Commonwealth countries) is a sponge-like garment worn by individuals who are incapable of controlling their bladder or bowel movements, or are unable or unwilling to use a toilet. When diapers become full and can no longer hold any more waste, they require changing; this process is often performed by a secondary person such as a parent or caregiver. Failure to change a diaper on a regular enough basis can result in diaper rash.

Diapers have been worn throughout human history, and made of cloth or disposable materials.

Izinkan saya menterjemahkan kalimat terakhir: POPOK (dlm artikel tersebut disebut DIAPERS) sudah digunakan sepanjang sejarah manusia, dan terbuat dari bahan kain maupun disposable (langsung buang).

Kalo boleh saya simpulkan, DIAPERS itu sekarang ada 2 jenis, ada yang langsung buang (disposable diaper), ada yang pakai ulang/KAIN (cloth diaper)

CLODI

Entah siapa yang pertama kali mensosialisasikan istilah ini, but I really hate this term. Dalam komunikasi saya dengan pelanggan, saya tidak pernah menggunakan kata ini. Saya lebih suka menyebut popok kain, atau sekalian ‘cloth diaper’. Dan saya paling merengut  kalau ada seseorang yang bilang

                “Haloo… mau tanya tanya, maklum nih masih baru di dunia clodi”

Ahh yang benarr??? Clodi (a.k.a popok kain) adalah hal yang sudah dikenal sepanjang sejarah manusia, and u re new to it?? Tapi saya ngga bisa nyalahin jg siiih, karena mereka tau istilah CLODI juga dari orang orang lain. Kalo boleh saya revisi, seharusnya

                   “Haloo… mau tanya tanya, maklum nih masih baru kenal popok modern”

Kalo saya menyebut istilah clodi dalam website ini, itu pasti copy paste dari deksripsi produsen, dan saya membolehkan istilah itu ada di sini asalkan tidak menimbulkan salah kaprah.  Misalnya

                YYY adalah clodi merek lokal yang terbuat dari blah blah blah

See? Kalimat tersebut tidak menimbulkan salah kaprah. Jadi it’s ok lah.

Yang menjadi salah adalah jika orang menyebut clodi identik dengan salah satu jenis popok kain modern yaitu pocket diaper. Pocket diaper hanya salah satu jenis “CLODI”, selain pocket diaper ada flat, fitted, all in one, all in two, dan lain lain, makin ke sini makin banyak varian baru.

Kalo dipikir pikir, salah kaprah CLODI ini munculnya karena salah kaprah tentang DIAPER. Sebab, orang sudah berasumsi bahwa DIAPER itu adalah popok sekali pakai (atau orang sering sebut PAMPERS), maka CLOTH DIAPER diasosiasikan sebagai pampers kain, alias popok yang serupa dengan popok sekali pakai tapi terbuat dari kain.

Hal ini menimbulkan ‘keanehan’ yang lain, misalnya muncul pertanyaan seperti berikut:

                “Ini pampers yang bisa dicuci yah?”

Kalau salah kaprah tentang diaper dan clodi tidak ada, pertanyaan seperti itu pun seharusnya tidak pernah ada. Tentu saja, namanya popok dari kain ya JELAS bisa dicuci. Kenapa coba tiba tiba ada ide di benak orang yang mempertanyakan jangan jangan popok kain ini tidak bisa dicuci?

Ide semacam itu muncul karena salah tangkap tentang diaper dan clodi, sehingga saat istilah ‘diaper’ muncul, maka popok ini dicurigai seperti ‘diaper diaper’ pada umumnya, yang tidak bisa dicuci.

But well, what can I say? Ketika suatu komunitas menyetujui suatu istilah sebagai kesepatakatan bersama, so be it. Yang benar adalah yang mayoritas *sigh*. Saya hanya berharap istilah yang saya anggap salah kaprah itu tidak menyebar terlalu cepat sehingga saya tidak perlu jadi minoritas dan berbalik menjadi pihak yang salah. Hiks..

Tags: ,

Popok dan Lingkungan

Posted on Friday 7/16/2010 at 7:27 | Category: Articles

Perdebatan tentang kontribusi lingkungan dari popok kain dan pospak memang ada. Kalangan pro pospak mengatakan bahwa menggunakan popok kain memiliki konsekuensi penggunaan air yang ekstra, penggunaan deterjen yang mencemari air tanah, dsb. Kalangan pro popok kain mengatakan penggunaan pospak berarti menambah limbah padat yang cukup signifikan terhadap TPA, dan kandungan tinja berbahaya apabila masuk ke dalam air tanah.

Menurut pendapat saya, kita tidak bisa begitu saja menyalahkan deterjen dan air untuk mencuci popok kain, karena tanpa popok kain pun, kita sudah menggunakan air. Anggap saja popok itu adalah pakaian dalam bayi (karena toh bayi hanya menggunakan popok kan? Tidak pakai ‘pakaian dalam’), sama dengan orang dewasa yang sehari hari menggunakan pakaian dalam. Penggunaan air ekstra adalah konsekuensi alami dari manusia ‘ekstra’ yang datang ke bumi. Tanpa kelahiran bayi pun, kita bisa jadi memang sudah menggunakan deterjen tidak ramah lingkungan. Jadi jika ada pencemaran deterjen di badan air dan air tanah, itu adalah kesalahan orang dewasa yang tidak mau mempertimbangkan deterjen yang ramah lingkungan. Selain itu, walaupun air semakin menipis, air adalah tetap sumber daya alam yang bisa diperbaharui. Lagipula mari kita pikir, apakah volume air untuk mencuci popok sebegitu signifikan-nya? Adapun pospak? Tetap saja butuh waktu 500 tahun untuk menguraikannya.

Ada satu hal yang menarik perhatian saya. Pup bayi (feses manusia), itu seharusnya masuk ke saluran khusus yang dibawa dari WC ke instalasi pengolah air buangan, tidak boleh masuk ke TPA. Apabila kita cermati kemasan pospak, maka di dalamnya ada instruksi untuk membuang pup bayi terlebih dahulu ke WC, sebelum membuang popok tersebut. Apakah para orangtua melakukannya? Saya tidak mau berprasangka buruk, tapi sejujurnya, saya tidak yakin, karena saya sendiripun cenderung malas repot apabila mengenakan bayi saya pospak. Dengan popok kain, mau tidak mau, kita harus membuang pup terlebih dahulu ke WC, sehingga kecenderungan untuk terjadi pencemaran tinja justru lebih dapat dikurangi.

Harap diingat bahwa setiap kegiatan manusia pasti menimbulkan dampak lingkungan. Apalagi selama kita menggunakan energy (listrik, bensin, dll), maka mau tidak mau kita berkontribusi terhadap kerusakan lingkungan. Jejak ‘dosa’ kita terhadap alam ini yang disebut jejak ekologis. Selama ‘kerusakan’ yang kita buat masih dapat diimbangi dengan kemampuan alami lingkungan untuk memulihkan diri, maka itu masih wajar wajar saja. Mengenai kontribusi kerusakan lingkungan popok kain dan pospak, ada baiknya kita melihat dari sisi: mana yang lebih banyak jejak ekologisnya? Dan menurut beberapa sumber (sebagai contoh dari http://www.dummies.com/how-to/content/diapers-cloth-versus-disposable.seriesId-92323.htm l#glossary-carbon_footprint;_ecological_footprint), jejak ekologis pospak adalah 2 kali lipat dibanding popok kain.

Ok, mari kita mencari sebuah sumber yang lebih netral. Dari sumber http://www.thedailygreen.com, Dr. Alan Greene (chief medical officer of A.D.A.M., chair of The Organic Center, a member of the advisory board of Healthy Child Healthy World and clinical professor of pediatrics at Stanford University’s Packard Children’s Hospital) mengamati sebuah studi dilakukan oleh Badan Lingkungan di England dan Wales. Kelompok peneliti membandingkan pospak, popok kain yang dicuci di rumah, dan popok kain yang dicuci di tempat mencuci komersial dalam hal kontribusi terhadap pemanasan global, penipisan ozon, pembentukan SMOG, dan penipisan sumberdaya alam yang tidak bisa diperbarui, pencemaran air, asidifikasi, toksisitas, dan polusi tanah. Studi ini tidak merekomendasikan pilihan apapun karena menurut para peneliti ini, semua menimbulkan dampak lingkungan. Walaupun menurut Dr. Alan Greene, seorang dokter anak, studi ini kurang lengkap karena di dalamnya tidak memperhatikan proses sangat awal dari produksinya, misalnya darimana asal asal liner plastic pospak, penebangan pohon, hingga penanaman kapas, karena akan ada perbedaan yang besar antara kapas yang tumbuh dengan kontribusi zat kimia toksik dan kapas organic, antara hutan yang berkelanjutan dengan hutan yang asal dibabat. Oke, kita anggap saja hasil penelitian Badan Lingkungan di Inggris akurat. Menurut Badan Lingkungan ini, yang penting adalah tindakan selanjutnya yang dapat mengurangi dampak popok. Misalnya bagi pemakai popok kain, mereka harus melakukan efisiensi energy dan hemat air (mudah bukan?). Jika memilih pospak, maka pilihlah produk dari produsen yang peduli lingkungan (green manufacture), yang biodegradable dan yang biasanya juga tidak mengandung klorin (lihat pembahasan mengenai popok dan kesehatan pada tulisan selanjutnya). The big question is… apakah pospak yang umum dijual di Indonesia itu bebas klorin dan biodegradable (dapat terurai)?

Memang rasanya kurang adil jika mengeneralisir. Namun saya pernah melihat pospak impor dan mengklaim produknya ramah lingkungan, harganya.. hmmm.. kruk kruk kruk…


 

Popok dan Kesehatan

Posted on Friday 7/16/2010 at 7:26 | Category: Articles

Yang menjadi pertimbangan utama bagi orangtua adalah menjaga agar kulit bayi tetap kering, sehat, bebas ruam popok. Banyak hal menjadi sebab ruam popok, misalnya basah yang terlalu lama, kurangnya sirkulasi udara, sabun, zat kimia, alergi zat warna, ammonia yang terbentuk karena interaksi bakteri pada pup bayi dengan urin.

Yang menjadi perhatian kesehatan terkait pospak adalah pewarna sodium polyacrylate (gel penyerap), dan dioksin, yang merupakan produk sampingan kertas (tisu) yang diputihkan. Pada masa lalu, Sodium polyacrylate sering dikaitkan dengan sindrom toxic shock, reaksi alergi, dan juga berbahaya karena ternyata bersifat letal terhadap binatang. Beberapa jenis pewarna dan dioksin menurut EPA (Environmental Protection Agency) diketahui dapat merusak sistem saraf pusat, ginjal, dan hati. (FDA) Food & Drug Administration menerima laporan bahwa aroma pada pospak dapat menyebabkan sakit kepala dan ruam. Ada beberapa laporan konsumen (di Amerika) yang terkait pospak, misalnya bau insektisida, bayi yang merobek robek pospaknya dan memasukkan potongan plastic ke dalam mulut dan hidung, tersedak karena perekat dan pelapis. Perekat plastic juga dapat melukai kulit jika salah pakai.

Menurut Journal of Pediatrics, 54 % bayi berumur 1 tahun yang menggunakan pospak mengalami ruam, 16% mengalami ruam parah. Sebuah penelitian yang dilakukan oleh sebuah produsen pospak (nama tidak disebutkan, yang pasti salah satu produsen terbesar), menunjukkan bahwa insidensi ruam popok meningkat dari 7.1% menjadi 61% seiring dengan peningkatan penggunaan pospak.

Namun bagaimanapun juga, harap diingat bahwa setiap bayi berbeda. Bisa jadi ada orang tua yang menemukan bahwa tidak ada masalah dengan bayinya yang menggunakan pospak. Pengguna popok kain juga tidak semerta merta menjadi selamat J Popok kain bisa juga menyebabkan ruam apabila tidak sering diganti dan tidak dibersihkan/dicuci dengan baik setelah terkena fese.

Semuanya tergantung dari pilihan pribadi, reaksi bayi terhadap jenis pospak merek tertentu, dan bagaimana intuisi kita saat memilih popok kain atau pospak.

Cara terbaik untuk mencegah ruam popok adalah mengganti popok, kain maupun disposable, secara rutin. Walaupun pospak mampu menahan urin dalam jumlah banyak, tetap saja kulit akan basah walaupun sedikit, yang dapat menyebabkan ruam. Adapun popok kain seharusnya diganti segera setelah popok basah, dan popok harus dibersihkan secara tuntas agar bakteri di popok mati.

Sumber: http://www.thenewparentsguide.com/diapers.htm

Popok dan Ekonomi Keluarga

Posted on Friday 7/16/2010 at 7:26 | Category: Articles

Kalau yang ini, rasanya tidak perlu ada perdebatan ya mana yang lebih baik antara popok kain dan pospak.  Mau bukti?

Oke, sekarang kita hitung hitungan dulu

Pemakaian pospak dalam sehari kira kira 6 buah, maka dalam 1 bulan (30 hari), pospak yang digunakan adalah 180. Dengan asumsi menggunakan pospak harga menengah (Rp. 1500 per pc), maka pengeluaran untuk pospak adalah Rp. 180.000 hingga Rp. 225.000 sebulan, setara dengan Rp. 3.240.000 dalam setahun, setara dengan Rp 6.480.000 dalam 2 tahun. Kalau ditambah krem ruam popok, hmm.. bisa lebih besar lagi. Apalagi anak di atas 2 tahun yang masih menggunakan pospak, pengeluaran bisa lebih besar dari itu.

COba dibandingkan dengan popok kain. Dengan asumsi menggunakan produk yang paling mahal (kita lebihkan saja dehh… anggap saja @Rp. 50.000), maka kita butuh sekitar 12 popok dalam sehari atau 24 popok dengan plus cadangannya, maka pengeluarannya adalah Rp. 1.200.000. Kita asumsikan daya mesin cuci adalah 300 watt dan waktu pencucian 1 hari adalah 1 jam, maka kwh nya adalah 0.3 kwh. PLN memprediksi harga listrik di akhir 2009 adalah Rp. 1011/kwh (www.wartaekonomi.co.id/), jadi biaya mencuci dengan mesin adalah Rp. 303/hari (9090/bulan). Asumsi penggunaan air adalah 20 liter sekali cuci (0.02 m3). Per awal 2009, tariff air Palyja adalah Rp. 1050/m3, sehingga untuk sebagian wilayah Jakarta, biaya air adalah Rp. 21/hari atau Rp. 630/bulan. Sebagai informasi tambahan, tariff air ini adalah contoh tariff daerah yang sudah terkena privatisasi. Untuk daerah yang suplai airnya masih dikelola daerah, bisa jadi tarifnya lebih rendah.

Oke, anggap saja si kecil menggunakan popok kain hingga umur 2 tahun, maka pengeluaran untuk listrik dan air adalah = (9090+630)x24 bulan= Rp. 234.000!! Kalau dihitung total dengan harga popoknya, maka pengeluarannya adalah Rp. 1.434.000!! Mohon diingat bahwa angka ini adalah angka dengan asumsi mark up. Artinya, pengeluaran bisa jauhh lebih kecil dari ini karena harga air lebih murah, mesin cuci watt nya lebih kecil, penggunaan air lebih sedikit volumenya, atau barangkali tidak menggunakan mesin cuci sama sekali.

Pilih 1,5 juta atau 6,5 juta? J Belum lagi kalau popok ini masih bisa diturunkan ke adik adiknya.

Gaya Hidup untuk Memilih Jenis Popok?clodi

Posted on Friday 7/16/2010 at 7:25 | Category: Articles

Mungkin para ibu bingung, harus beli popok yang mana, apa bedanya produk a dengan produk b, dan lain lain. Popok jenis mana yang harus ada untuk si kecil tergantung dari “gaya hidup” orangtuanya.

Ada tipe orang tua yang mau bayinya senantiasa kering dan bersih, ingin mengetahui setiap kali bayinya pipis dan pup. Walaupun sangat melelahkan, tapi tipe orangtua ini rela berkali kali mengganti popok bayinya karena sangat takut bayinya mengalami ruam popok, lembab, dan lain lain. Biasanyanya mereka pantang mundur dengan yang namanya kena  ompol. Cuek cuek aja jika kena ompol, cuek cuek aja bila sprei kena ompol, yang penting bayi cepat ganti popok. Orang tua jenis ini biasanya cocok dengan popok tetra (Enphilia Muslin Square, prefold atau alas ompol), yang tidak dilengkapi lapisan anti tembus.

Ada orang tua yang sangat perhatian terhadap kelembaban kulit bayi dan takut terlewat perhatiannya terhadap popok basah, namun di lain pihak ‘takut’ kena ompol karena perkara najis. Orang tua ini merasa jika harus mengganti pakaian jika kena ompol sangat melelahkan. Untuk yang ini, bisa menggunakan pilihan seperti di atas, dengan menambahkan diaper cover. Penggunaan popok anti tembus dengan penyerap tipis tetap harus rajin rajin mengecek dan mengganti, jika tidak kulit bayi akan gerah dan cepat lembab. Jika ayah bunda tipe orang yang khawatir dengan penggunaan bahan jas baby atau PUL(takut kulit bayi lembab), maka bahan berpori dapat menjadi solusinya. Bagi yang sangat memperhatikan breathability, kulit bayi mudah merah terkena karet, atau sensitif, maka Enphilia original &/ crispy bisa menjadi solusi, karena bahannya yang berpori. Dengan mengakali pada jumlah insert, daya tahan Enphilia original& crispy bisa diatur.

Ada tipe orang tua yang super sibuk dan biasanya menggunakan popok sekali pakai karena mengandalkan daya tampung dan daya serapnya. Biasanya orang tua jenis ini menunggu pospak penuh dulu sebelum mengganti, dan membeli popok dengan penilaian daya serap dan daya tampung tinggi sehingga tidak harus sering ganti. Walaupun ‘gaya hidup’ ini tidak disarankan, namun terkadang kondisi pekerjaan yang menguras tenaga dan pikiran menuntut munculnya gaya hidup ini. Untuk meminimasi dampak buruk bagi kulit bayi, maka bayi ayah bunda perlu menggunakan popok yang memiliki serapan tebal namun lapisan dalamnya bukan katun biasa atau bahan bahan hidrofil (suka air) lainnya.  Perlu pula popok dengan bahan lapisan dalam berupa material yang meloloskan air tetapi menolak air, misalnya bahan   fleece. Material ini memungkinkan lapisan dalam popok tetap kering walaupun sudah terkena pipis. Untuk jenis yang ini,  Enfiesta bisa menjadi solusi.

Selain lifestyle orangtua, perlu pula memperhatikan tipe bayi, dan bagaimana tipe pengasuhannya. Ada bayi dengan kulit super sensitif, yang mudah sekali  terkena ruam, ada pula yang jarang sekali ruam. Ada bayi yang langsung rewel jika popok basah. Adapula yang anteng anteng saja walaupun popoknya penuh. Popok dengan bahan tetap kering, walaupun unggul dan bisa menyamai kualitas pospak, cenderung membuat bayi tidak peka jika ia pipis karena walaupun pipis, popok tetap ‘nyaman’, ini akan memberikan kesulitan kemudian pada saat potty training. Namun ada pula yang menganggap hal tersebut tidak apa apa, masalah potty training itu ada masanya, untuk sekarang yang penting bayi tetap kering, dst.

Semuanya kembali pada keputusan orangtuanya. Jadi, …. sudah bisa memutuskan bukan akan menggunakan popok jenis apa untuk si kecil?

Kamus Istilah

Posted on Friday 7/16/2010 at 7:23 | Category: Articles

1. All In One Diaper (AIO)

Dari segi kemudahan memakai, AIO adalah yang paling unggul. AIO memiliki lapisan anti tembus di luar, dan lapisan penyerap di dalamnya, semuanya terjahit menjadi  satu, dan tidak membutuhkan tambahan peniti. AIO cocok untuk penggunaan yang praktis. Tapi, karena lapisan penyerap adalah bagian yang tidak terpisahkan dari AIO, maka AIO memiliki kelemahan yaitu memerlukan waktu pengeringan yang lebih lama, dan pencuciannya harus lebih teliti, karena memiliki penyerap berlapis yang tidak dapat dipisahkan.

2. Pocket Diaper (Popok berkantung)

Popok jenis ini memiliki kantong yang dapat diisi lapisan penyerap, biasanya lapisan luarnya sudah anti air. Biasanya pembelian pocket diaper sudah beserta bonus insert, yaitu lapisan penyerap. Namun, insert ini dapat diganti dan ditambah lapisannya sesuai keinginan, bisa menggunakan handuk, tetra, dan bahan lainnya yang tingkat penyerapannya tinggi. Jenis bahan yang populer digunakan sebagai insert adalah microfiber terry, yaitu sejenis handuk yang memiliki serat lebih kecil dan daya serapnya sangat tinggi. Untuk penggunaan yang lebih lama, misalnya malam hari, lapisan insert dapat ditambah untuk menambah daya serap.

Jenis ini sedikit lebih merepotkan daripada AIO, karena harus memasukkan insert sebelum dipakai, dan mengeluarkannya sebelum dicuci. Namun, karena lapisan penyerap dapat dipisahkan, maka dapat dijemur terpisah dan lebih cepat kering daripada AIO.

3. Flat Diaper/Muslin Square (Popok Segi Empat)

Jenis ini sudah banyak dikenal sejak jaman dahulu. Di Indonesia, popok ini biasanya menggunakan bahan kain tetra. Kain ini dilipat dengan teknik sedemikian rupa sehingga dapat dipasangkan pada bayi, biasanya membutuhkan aplikasi yaitu peniti ataupun pengait lain. Ada berbagai jenis cara melipat popok segi empat. Adapun teknik lebih jelasnya akan dijelaskan pada artikel lain. Supaya tidak tembus, jenis ini masih memerlukan diaper cover.

4. Prefold

Jenis ini tidak begitu umum di Indonesia. Pada dasarnya prefold adalah popok segi empat yang sudah dilipat dan dijahit lipatannya sehingga membentuk lapisan penyerap di tengah (bagian tengah lebih tebal), sehingga ibu/pengasuh bayi tidak perlu repot dengan melipat sedemikian rupa. Jenis ini tetap membutuhkan pengait. Supaya tidak tembus, jenis ini masih memerlukan diaper cover.

5. Diaper Cover (Penutup Popok)

Diaper Cover adalah penutup ekstra yang digunakan untuk melapisi popok kain supaya tahan air. Ada berbagai bahan kain yang dapat digunakan sebagai penutup popok. Produk impor banyak menggunakan bahan yang disebut Polyurethane Laminate (PUL), yaitu kain yang di bagian dalamnya dilapisi semacam lilin sehingga tidak tembus air. Untuk produk lokal, penutup popok biasa menggunakan plastik jass baby, yaitu plastik yang lembut yang tidak melukai kulit bayi. Selain PUL dan jas baby, wol juga bisa digunakan sebagai penutup popok.

Perlu dibedakan ketahanan terhadap kebocoran antara PUL, jas baby, dengan wol atau fleece. PUL dan jas baby sifatnya anti tembus (Waterproof), sehingga air memang tidak mungkin tembus tegak lurus. Apabila menggunakan bahan yang anti tembus, bayi harus sering sering dicek karena bisa jadi celana tidak basah padahal di dalamnya sudah jenuh dengan urine dan hal ini tidak baik untuk kulit bayi.

Adapun bahan wol dan fleece sifatnya tidak anti tembus, tetapi menolak air (hidrophobic). Apabila bayi mengompol, ompol tidak semerta merta tembus, karena lapisan wol menahan air untuk sementara. Pengasuh dan sprei akan aman dari ompol untuk 1 atau 2 kali pipis. Namun apabila jenuh, akhirnya air dapat tembus juga dari lapisan wol. Diaper cover jenis ini paling sehat untuk kulit bayi karena bahannya sangat berpori sehingga tidak membuat kulit gerah.

Penjelasan tentang istilah versi yang lain bisa ditemukan di blog Milis Popok Kain.

Melipat Popok Segi Empat – Origami Style

Posted on Thursday 7/15/2010 at 10:59 | Category: Articles

Berikut ini cara melipat popok peninggalan orang tua kita. Biasanya menggunakan kain tetra segi empat yang cukup lebar. Kalau orang jauh sana menyebutnya Muslin Square. Bisa juga menggunakan kain bedong 70×70 cm sampai 90×90 cm. Karena bedong biasanya bentuknya persegi panjang, jadi bisa dilipat sedikit atau digunting supaya bentuknya segi empat.

Enphilia Washing Instruction

Posted on Thursday 7/15/2010 at 10:48 | Category: Articles Featured

Washing Instruction

  1. Before use, wash the diaper once with a little portion of detergent to remove dirt and material finishing
  2. If regular detergent is used, apply 1/4 – 1/2 of manufacture’s recommended dosis
  3. Do not use bleach and softener. It may leave residue on the diapers that will cause leaking, stink, and reduce the absorption.

Special treatment/Extra note:

  1. Stripping once a month is recommended to prevent stinking diaper that is caused by detergent build up.
  2. How to strip diaper: wash the diapers in clean waters without detergent using washing machine for several cycles (2, 3, or more) until no foam is appear.
  3. Soaking the diaper in warm water may help to remove residues.
  4. Vinegar may help to ‘freshen’ the diaper. Apply 1/4 cup of vinegar in the washing bucket half filled with water for washing.
  5. Line drying will remove stain naturally.

Instruksi Pencucian

  1. Sebelum digunakan, cuci popok kain dengan sedikit deterjen untuk menghilangkan kotoran dan finishing kain
  2. Jika menggunakan deterjen komersil biasa, gunakan 1/4 – 1/2 dari takaran yang dianjurkan oleh produsen deterjen.
  3. Jangan menggunakan pemutih dan pelembut. Penambahan zat tersebut dapat menyebabkan timbulnya residu pada popok kain yang dapat menyebabkan berkurangnya daya serap, mudah bocor, dan berbau.

Penannganan khusus/catatan tambahan

  1. Melakukan stripping satu kali sebulan untuk mencegah timbunan deterhen yang menyebabkan popok berbau.
  2. Cara stripping : Cuci dalam mesin cuci dengan air bersih tanpa deterjen, dalam beberapa kali siklus putaran hingga tidak lagi ditemukan buih/busa.
  3. Merendam popok kain di air hangat/panas dapat membantu menghlangkan residu.
  4. Cuka dapat digunakan untuk menyegarkan popok kain. Tambahkan 1/4 cangkir cuka dalam air cucian.
  5. Menjemur di bawah atahari dapat menghilangkan noda secara alami.
Page 1 of 212
Email : rumah popok.
Copyright © 2011 Rumah Popok.com. Convenient & Affordable Cloth Diapering